Translate

Rabu, 28 September 2011

Syair M. Harun N. (2)

Allah, Rabbku
ar-Rahman ar-Rahim nama-Mu
Seharusnya ada haru di dadaku
manakala kusebut nama-Mu itu
Maafkan aku

Manakala aku sadar, kurasakan
betapa rahman-rahim-Mu
berlimpah ruah

Seharusnya aku segera runduk,
sujud, tertelungkup di latar tanah 
berlumpur, 
untuk mengekspresikan
aku adalah orang, dikeharibaan
Rahman-Rahim-Mu, nyaris tiada
bermakna
Ampunilah aku! Kasihanilah aku!

Segala puji bagi-Mu
sekali lagi karena Rahman-Rahim-MU
Kau mampukan aku
menuntaskan syair ini, dan Kau penuhi
dadaku dengan keharuan, dan cucuran
mata lega.

Yogyakarta, 
29 September 2011 12.33 wib









Syair Hasan bin Tsabit bin Munir

(Syair Pujian kepada Rasullah Saw.)


“Meski dahinya ditampakkan di kegelapan malam, 
dahinya memancarkan cahaya seperti lampu malam yang dinyalakan”
“Aku berikan pujian kepada Muhammad, maka ganjaran kudapatkan dari beliau dan Allah.”

Catatan:
Sebelum wafatnya beliau buta. Akhirnya beliau wafat pada tahun 54 Hijriah di Madinah.

Sumber:
Setya Sastrodimedjo

Selasa, 27 September 2011

Syair Taufiq Ismail (1)

Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit

Himpunan Puisi 55 Tahun
Rasa gembira luar biasa setiap penulis yang tahun kerjanya sudah panjang, adalah menyaksikan karyanya diterbitkan sebagai himpunan. Dengan demikian gagasan yang bertebaran di berbagai penerbitan, selama tahun-tahun tersebut dapatlah dibaca ulang, dalam bentuk tulisan prosa, puisi dan lirik lagu, melintasi keragaman peristiwa dan sempadan zaman.

Penulis ini berterima kasih sedalam-dalamnya kepada istrinya dan keluarga, kepada  seluruh sahabat-sahabatnya yang bertungkus-lumus, bersusah-payah menghimpun dan merapikan himpunan tulisan ½ abad lebih ini, kepada para dermawan pendana sehingga memungkinkan terbit semuanya.

Sepanjang perjalanan penulisan, pada saat ini berjangka 55 tahun sudah, pertanyaan dalam diri saya berulang kali adalah, apa sebenarnya yang saya inginkan dari semua yang dikerjakan selama ini berlelah-lelah?

Pertama-tama perlu diketahui dulu, di mana posisi saya gerangan? Dalam garis bujur dan lintang geografi, berapa angka basis dan ordinat saya? Ternyata ranah permukiman saya adalah anggota dari sebuah noktah geologi dari beberapa juta galaksi alam semesta ini. Noktah ini, sebuah titik benda angkasa bernama bumi, beredar dengan setia di garis melengkung yang jelas, eksak dan rapi dalam satu gugus galaksi, berlayar di angkasa raya berjuta tahun sudah lamanya. Dalam titik ini saya adalah sebutir zarrah, sebutir debu yang bertengger di permukaannya.

Kemudian, sesudah debu ini mengetahui posisinya di atas titik bernama bumi ini,  seperti bermilyar-milyar debu lainnya, bekerja dan bertugaslah dia. Debu yang satu ini mula-mula berfungsi sebagai anak debu, lalu suami debu, ayah debu, warganegara debu, dan mengerjakan sastra debu.

Debu yang luar biasa kagum pada penciptaan konstelasi galaksi angkasa raya seisinya dan luar biasa bersyukur memperoleh kesempatan menjadi debu di atas titik planit bernama bumi ini, menghadapkan seluruh eksistensinya dalam bentuk sujud ke arah Sang Maha Pencipta Alam Semesta ini.

Sastra zarrahnya, sastra debunya, yang sadar terhadap lingkungan planit dan galaksinya, berikhtiar menanamkan akar ke dalam bumi, akar tunjang sekali gus akar serabut, kemudian menumbuhkan pohon, dahan, ranting, putik dan daunnya tinggi menjulang ke atas sana. Dia memerlukan cahaya matahari, cuaca, kesuburan tanah dan pupuk organik-inorganik. Dia tahu langit tak akan tercapai, paling banyak hanya tergapai.

Sastra zarrahnya, sastra debunya berikhtiar menuliskan Kalimat Yang Baik Dan Indah, dengan ibarat pohon yang ditanamnya ini, yang rimbun daunnya diharapkan meneduhi musafir lewat serta menyubur-kan pohon-pohon lain pula. Pohon yang mudah-mudahan menyajikan buah pada setiap musim, seizin Sang Maha Pencipta Musim. Buah yang ranum lezat bermanfaat bagi lingkungan masyarakat sekitar pohon itu.

Setelah dimensi ruangnya jelas, kini bagaimana dengan dimensi waktunya? Ternyata tak panjang masa tumbuh dan panennya, tak sampai tiga digit, dua digit cuma. Ukuran tahun cahaya angkasa raya sama sekali tak berlaku baginya, bahkan kesempatan bercahaya pun belum tentu diperolehnya, semisal ekor bintang, walau beberapa kejap mata sahaja.
Merenungkan ini semua, maka tukang kebun ini menyerahkan tanamannya yang sudah jadi ini kepada Sang Maha Pencipta Pohon Semua Planit di Galaksi Angkasa Raya, memohonkan keampunan atas segala cacat-cela kekurangan kerja pertukangannya seraya bersujud dalam rasa syukur tiada habis-habisnya.

Terima kasih, pembaca yang budiman.***

Syair Muhammad Iqbal (2)

Syair Muhammad Iqbal, Filosof dan Penyair Islam Pakistan.

 
Engkaulah pengawal terpercaya bagi rahasia azali
dan bagi Penguasa alam ini!
Engkaulah tangan kanan dan kiri!
Engkau dibentuk dari debu,
namun kau tegakkan dunia,
dan kau lestarikan bangsa manusia.

Reguklah piala penuh keyakinan
dan bangkitlah dari lumpur wasangka dan kebimbangan!
Bangunlah dari nyenyak tidurmu
yang lama sudah
menyiksa pedih jiwamu!

Barat tempatmu bergantung
telah menipu otakmu,
dan menyihir jiwamu.
Barat tempatmu bergantung
telah menipu dirimu.

Sekali dengan bujuk halus dan rayuan.
Sekali dengan belenggu dan jeratan.
Kali ini diperankannya Syirin,
dan kali lain Perves.

Orang-orang Eropa di zaman modern
telah memerankan Jengis Khan dan Hulaka,
dan dunia pun hancur binasa
oleh serbuan dan serangan mereka.

Wahai pembina Masjid Haram!
Wahai khalifah Nabi Ibrahim!
Bangkit dan binalah dunia baru!
Bangunlah dari nyenyak tidurmu
yang begitu lama
merejammu dalam duka nestapa!

Penyunting : M. Harun N.

Sumber: Filed under: Syair by Jookut dkk. July 6, 2009, dari kitab karya Abu’l-Hasan Ali Al-Nadli, Islam Membangun Peradaban Dunia (diterjemahkan oleh Drs. M. Ruslan Shiddieq), Jakarta:
PT Dunia Pustaka Jaya dan PT Djambatan, Cet. I, 1988, hal 380.

Syair M. Harun N. (1)

Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
telah melimpahkan kasih-sayang-Nya, baik diminta maupun tidak.
Tak terkira kasih-sayang-Nya.

Langit dikembangkan dan ditetapkan neraca keadilan, agar jangan
ada yang melampaui batas dan mengurangi takaran.
Gunung dipancang agar bumi tidak goyang, dan banyak lagi lainnya.

Wahai Tuhanku, Yang Maha Pengasih Maha Penyayang!
maafkan aku yang sering lalai, meski sekedar berucap tahmid atas 
segala limpahan rahmat dan barakah dari-Mu.







Senin, 26 September 2011

Syair Muhammad Iqbal (1)

Tak ada tempat di jalan ini.
Mereka yang bergerak,
mereka yang maju ke muka.
Mereka yang berhenti,
sejenak sekalipun,
pasti tergilas.